Masalah Charlie Hebdo membawa efek pada pemakaian aplikasi pesan instan terenkripsi di Inggris. Dimaksud digunakan teroris, Perdana Menteri (PM) Inggris, David Cameron punyai gagasan untuk memblokir jalur komunikasi instant message itu. Ada dua service yang dimaksud dibidik ; WhatsApp serta Snapchat.
Kenapa yang disasar terenkripsi? Karena, pemakaian jalur komunikasi terenkripsi tak dapat “dibaca” oleh tubuh keamanan berwenang setempat. Walau, mereka mempunyai wewenang karenanya atau memiliki surat perintah.
“Apakah kita ingin membiarkan komunikasi yg tidak dapat di baca orang lain? ” kata Cameron.
PM Inggris itu memanglah tak dengan cara gamblang menyebutkan service pesan instan spesifik juga sebagai tujuan. Tetapi, pria 48 th. itu memperbandingkan jenis komunikasi pembicaraan teks (SMS) serta telephone dengan service pesan instan. Menurut dia, pesan teks serta telephone dapat “dibaca” oleh tubuh keamanan suatu negara.
“Kami mempunyai system tambah baik untuk melindungi keamanan daripada negara lain, ” tegasnya.
Hal semacam ini sudah pasti berbanding terbalik dengan penyedia service. Sebagamana di ketahui, perusahaan seperti WhatsApp mesti terus melindungi prinsip mereka agar service enkripsi terus aman serta dijauhkan dari intaian pihak lain atau otoritas negara.
Tetapi kelihatannya kenyataan bicara lain. Service terenkripsi malah membuat keadaan prima untuk mereka yang mau berbuat jahat. Terkecuali juga sebagai akses komunikasi “aman, ” pemakaian system enkripsi dapat digunakan untuk menyelipkan malware didalam data transaksi yang terenkripsi.